Dimana Diriku?

*ngintip*

………………

*masih ngintip juga*

……………

*pelan-pelan keluar dari balik layar; senyum malu2…….kucing*

ehm, halo semua…..

Kalo dilia’-lia’ dari tanggal terakhir saya nulis, kira2 dah berapa lama saya ngilang dari panggung WordPress?  Sebulan? ‘Nem bulan? Setahun?

Maaf, maaaaffffff banget. Saya memang orangnya kurang konsisten, ga bertanggung jawab, males,…….. (silahkan tambah sendiri). Kalo ninggalin blog kurang ajar lamanya, pake ga bilang-bilang lagi. Saya sadar sepenuhnya akan kesalahan saya, dan sekarang Insya Allah saya akan belajar untuk tetap menulis di Chrystal Blue, se-crappy apapun tulisan saya jadinya.

Anyway, kenapa sih saya lama ga balik ke WP?

Pertanyaan klasik, jawaban klasik: ga mood. Memang bener, namun masih ada satu faktor lagi: ga PD.

*Eugh, what kinda person would give such reason: ga PD?* *getok*

Akhir-akhir ini saya lagi kena down syndrome. Ga tau kenapa. Barangkali satu penyebabnya adalah pusing. Yep, pusing mikirin masa depan. Oke, saya yakin pasti ada pembaca yang nyaut: ngapain masa depan dipikirin? Jalanin aja lagi. Yeah, I get it. In fact, I’ve been repeating those words over and over ’till I get sick of it

Geuh, ada yang sedia jasa konsultasi psikologi onlen? I need it, and I’ve lost words

 

AAARRRRRGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!

!781&&6&8680&(67YHGhhhvHGftyFGFfTFT!!!!!!!!!!!!!!!

MenyebalkanMenyebalkanMenyebalkanMenyebalkan!!!!!!!!!!!

Dilematis memang jadi mahasiswa

Apalagi yang hidupnya nyaris di ujung dunia

Ga tau kudu nangis ato ketawa

Ngliat teknologi yang udah jumawa

Walhasil malam ini dia milih meringis

Campur tangis

Niat hati mengganti matkul

Just tick the box next to ‘DELETE’

Plasss!!! Matkul hilang!!!

Eh, dasar nasib

Mau ngisi lagi….

The unit cannot be displayed

Mampus, tobat!!!!

Logis ga sih?

Kuliah cuma dengan 3 pelajaran?

Takut aku, takut aku

Liat nyawaku diujung tombak D.O

Edit:

The enrolment system will stop functioning untill January the 18th

……………………………….

…………………………………………..

……………………………………..hu…he…he..he….

HUARRRGGHHHHHH!!!!!!!!!! 

Catatan Singkat di Awal Tahun

Yah, singkat saja….

Harap dimaklumi, akhir-akhir ini saya mulai jarang keliatan di blog. Perhatian saya tengah teralihkan oleh kesibukan browsing gambar porno indah di DeviantArt. I forgot when was the last time I wrote. Such a shame. Once again I betrayed my own commitment.

Begitulah, niatan saya untuk kembali menghidupkan Chrystal Blue dimulai pagi kemarin. E alah, begitu adaptor dinyalakan monitornya ga mau jalan. Layarnya hitam kelam. Sialan. Terpaksa kubuat sketsa di buku harian. Berikutnya, laporan.

1. What happened on New Year’s Eve

Yeah, I successfuly came back to Indonesia. Pas tanggal 31 Desember lagi. Naek pesawat pagi, jam 11 waktu Sydney. Ke bandara dianter Mas Didik. Untung, untung, soalnya kaki tangan sudah kram setelah mengangkut 30 kilo beban (90% bajunya tanteku, 10% souvenirs). Saat check in tidak ada masalah, cuma konfirmasi ulang masalah berat koperku yang menurut tiketnya masih bisa masuk luggage. Di kabin cuma bawa postman bag South Park sama tas besar berisi titipan cokelat Belgia buat oleh-oleh.

Enam jam perjalanan Sydney-Bali sudah bukan masalah lagi, selama makanan hangat masih tersedia di baki, hehehe (huuu ketauan deh kalo naek pesawat yang diincer makanan doang). Sempat ngobrol sama mbak yang duduk di sebelahku. Pegawai BNI, liburan ke Sydney karena ada sepupunya disana. Obrolan singkat saja, karena waktu banyak habis terpakai buat tidur-tidur ayam.

Sampai Denpasar, kudu pindah ke terminal domestik yang jauhnya minta ampun. Lumayan, sudah bisa bergaya Romawi karena ada kuli yang siap menemani, hohohoho ^_^;. Tujuan akhir: Surabaya.

Sampai Juanda, sudah disambut Babe-Nyak. Pulang ke Malang lewat Porong, mampir dulu ke Ijen buat sowan Kakek-Nenek. Malamnya dibangunkan secara tidak terhormat oleh jedar-jeder-jedor kembang api. Heran aku sama orang-orang yang tidak tahan untuk melewati malam ini dengan ketenangan. Bencana tidak akan berhenti sejenak untuk menikmati kembang api, tau!

…..aneh, tiba-tiba aku menyesal karena tidak menonton kembang api yang jauh lebih meriah di Harbour Bridge sana.

Bagiku, kepulanganku ke Indonesia kunikmati sebagai refleksi rasa rindu pada kampung halaman semata. Tidak, secara pribadi aku tidak mengikutsertakan makna patriotisme di dalamnya sebab aku tidak mau dicap sebagai “Anak Bangsa” dengan semena-mena. Slogan-slogan itu pun telah menjadi kepompong kosong saja, isinya telah mengembara entah kemana. Dan kita masih saja terus menyanjung sansak kosong.

Dimanapun aku berada, ada atau tidak ada “Indonesia”, aku tetaplah manusia.

2. After the first day of January 2008

Seperti lagu, Januari ini pun kelabu. Hujan terus, panas terus. Kehidupan mengalir terbawa arus.

Seminggu kemudian adiknya eyang buyut meninggal. Dimakamkan di Taman Makam Sama’an pakai ratus dan entah beberapa kali Ave Maria. Ya, dia Katolik. Satu-satunya yang kutahu di belantara legacy keIslaman keluargaku. Sudah itu, salah seorang kerabat Eyang ikut menyusul. Lucu. Seolah kedatanganku adalah akhir hidup beberapa orang, begitulah rekaan hatiku.

Namun tak lantas bulan ini jadi bulan tragedi. Kalau ada yang bilang Indonesia itu surga, aku bilang surga makanan. Satu tahun merantau hanya berbekal kemampuan masak pas-pasan. Bayangkan saja apa yang aku makan. Makanya, aku nggak salah kalau menyebut Indonesia ‘surga makanan’. Soto, bakso, cwi mi, tempe, tahu, segala pelecut stimulus kerinduan sukses meluncur ke lambung.

Minggu, 13 Januari 2008. Atas rekomendasi seorang teman, aku datang ke Perpustakaan kota Malang untuk ikut FPKM (Forum Penulis Kota Malang). Eh, ternyata adik kelasku juga ada disana. Aku langsung akrab, dan diakrabi, sama anggota-anggota lainnya, despite the fact that I don’t get along really well with persons I’ve just met. We talked about the importance of appreciation, then slowly moved to the importance of someone’s existence involving Sartre and Maslow, brought by our leader David. I’ll write about that on different segment.

It was a fairly quick discussion. We started at 10, finished at 11:45 or so. I had the spare time checking on some good stuff on the bookshelves. Guess I should give Sartre a try. Later, Nyak-Babe picked me with Zebra full of Wicaksono chips.

Tuesday, January 15th 2008. This morning I’ve been re-reading Catatan Seorang Demonstran. I felt regretful for neglecting it. Ah, I need to prepare Kafka’s ‘Metamorphosis’ for the next FPKM meeting on February 10th. Nice, the rookie gets her first chance to lead the discussion.

Menawhile, I’m still waiting for a chance to give that goddamn computer a kick on the arse.      

Ketiban Hip Mypersonality

Aih, aih, lagi-lagi saya nemu situs asyik buat iseng. Namanya Mypersonality, situs buat anda-anda yang notabene tidak puas dengan hasil tes IQ yang mungkin pernah anda jalani waktu masih SMA (termasuk saya🙂 )

Yang ini hasil test Personality Type saya:

Click to view my Personality Profile page

Tipe: INFP

Temperamen: NF-Dreamer

  • 58% introverted
  • 79% intuitive
  • 74% feeling
  • 63% perceiving

Bentar lagi, kalo si inet belum ngos-ngosan, bakal saya tambah dengan Multiple Inteligence😛

Edit: Berikut saya tambah dengan Multiple Inteligence

Click to view my Personality Profile page

Yah, begitulah hasilnya sodara-sodara. Sudah jelas, saya ini termasuk tipe orang yang kalo duduk bisa lamaaaa banget, suka senyum-senyum (bahkan manggut-manggut tanpa sadar) kalo denger lagu-lagu yang asyik, pandangan (katanya lho) lebih sering kosong daripada berisi (berisi apa hayo?), berfantasi aneh-aneh, dan kalo ngobrol lebih suka menjurus ke hal-hal yang weird daripada pop culture. Barangkali saya calon kuat penghuni sebuah rumah di Porong sana a.k.a rumah sakit jiwa *_*

Lebaran Bareng Kangguru

Hmm, Lebaran tinggal 24 jam lagi. Saya disini masih saja nyangkut di surga marsupial seperti kangguru, koala, echidna, etc. Agak ngiri sih sama mereka-mereka yang berkesempatan bertemu ortu tercinta, tapi apa daya tangan gue ga sampe saya nggak bisa pulang bulan ini karena bulan depannya saya sudah harus berjuang di medan perang final tests lagi. Dengan berat hati rencana pulang saya undur sampe tanggal 31 Desember. Yup, pas New Year’s Eve, dan saya optimis bisa melihat terbitnya lembaran baru di atas langit. Hehehe, keren kan?

SELAMAT HARI LEBARAN

SEMOGA PERJUANGAN KITA SELAMA SEBULAN TIDAK SIA-SIA

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 

Peace Out, Cheers :) 

YAKUSOKU NO CHI-The Promised Land

Postingan keduax saya sebagai penebus dosa gara-gara lama ga posting.

Begitulah, sejak liburan tengah semester which is this week saya seperti biasanya bertransformasi menjadi net junkie. Dengan tidak senonohnya saya bergerilya di netsphere, ngoprek-oprek Youtube, donlot lagu, buka-buka Wikipedia, ngoprek Youtube lagi, nyantronin fansite-nya Muse, gerilya di DeviantArt, cek imelda/Friendster, gugling, gitu terus ampe bosen. Harap dicatat bahwa siklus per-ngenet-an saya cenderung tetap dan konsisten, hehehe.

Begitulah, suatu hari saya ‘terdampar’ di Laguna Biru, syurrgasurganya para pecandu soundtrack RPG yang memang keren-keren hueheh. Tak sengaja masuk ke halaman buat donlot soundtrack-nya Final Fantasy VII: Advent Children, kebetulan juga saya lagi niat buat menyedot habis-habisan hasil karya Uematsu Nobuo-san sebagai memoar masa lalu saya sebagai seorang pecandu FF7 (walopun kagak selesai gara-gara stuck di Disk 1, padahal udah mendekati akhir tuh huhuhu ;_;).

Salah satu komposisi yang, bagi saya, cukup menyentuh adalah “Yakusoku no Chi, The Promised Land”. Bagi yang udah nonton Advent Children pasti tahu kalo lagu ini diputar di bagian awal film sebagai introduction keseluruhan atmosfir cerita.

  

The Promised Land

Composer: Nobuo Uematsu
Vocals: G.Y.A.
Latin (Original)

Cur in gremio haeremus?

Cur poenam cordi parvo damus?

Stella nobis non concessit, non concessit

Stella nobis non concessit, non concessit

Venarum pulsus in terram fluens
 

Parvus, parvus pulsus

Cor mortem ducens

Vita mollis in stellam redeunt

Animam sacrificare necesse est?

Cur in gremio haeremus?

Cur veniam petimus

In terram fatali?

English (Translation)

Why do we stay in the womb?

Why do we provide punishment to our weak hearts?

Our star wouldn’t allow, wouldn’t allow

Our planet wouldn’t allow, wouldn’t allow

The pulse of veins in the Earth flowing
 

Faint, faint pulse

Of the heart leading to death

The weak life returns to the planet

Is it necessary to sacrifice the soul?

Why do we stay in the womb?

Why do we beg for forgiveness

In the fateful Earth?

 Hmm, menyentuh bukan? maksa. Silahkan kupipes lirik ini kalo ada yang tertarik, sekalian donlot lagunya promosi😛. Sekedar saran, coba dengerin sambil liat liriknya biar acara penghayatannya makin khidmat *halah*.

Saya Kacau Lagi

Penulis mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalaninya. Semoga dengan ibadah ini kita semua menjadi pribadi yang lebih baik.  

Saya tau saya telat, tapi kan masih lebih baik ngasih ucapan sekarang daripada nggak sama sekali kan? *maksa*.  Hmm, entah kenapa akhir-akhir ini jarak antara satu posting dan posting lain saya semakin melebar. Ada apa gerangan? Apakah saya mulai kehilangan semangat untuk menulis?  

Yep, seperti judulnya, beberapa waktu yang lalu saya sempat lama berkubang dalam tahap prokrastinasi-tahap yang sejujurnya paling saya benci soalnya pada saat itu otak, hati, logika, dan imajinasi saya madheg greg, became super static. Entah fakta ini benar atau tidak, namun saya merasa bahwa semester dua ini bakal merampas habis sebuah tenaga saya. And it’s true  

Semester dua ini saya mulai dengan berjanji dengan diri sendiri, bahwa saya bakal menaikkan grade saya jadi CREDIT semua. Ato kalo bisa DISTINCTION semua. Pokoke, kudu lebih daripada semester kemaren!!! You know what I mean, don’t you? Yup, more study less play (kira-kira kasarannya gitu lah). Tiba-tiba dan entah kenapa, self-hypnosis ini berhasil menguasai saya, menjadikan saya makhluk mengerikan super obsessed by grades. Tiba-tiba saya, yang semula ndomblong pas diskusi, ‘terpaksa’ menjadi cerewet. ‘Terpaksa’, saya bilang, karena meskipun saya hampir-hampir ga punya pengetahuan dasar tentang materi yang didiskusikan saya selalu mencoba aktif—demi merebut perhatian si tutor sehingga dianya bakal mikir “Wah, anak ini semangat sekali. Kasih nilai plus kali ye”.  

Saya, sejujur-jujurnya manusia, merasa seperti orang tolol dengan bertindak seperti itu. Saya benar-benar telah kehilangan esensi saya sebagai seorang ‘pelajar’ yang ‘baik dan benar’. Entahlah, barangkali saya masih membawa complexion masa lalu bahwa ‘sekolah/belajar/masuk uni’ tuh semata cuma untuk nilai dan grade tinggi biar gampang keterima kerja. Sebuah pemikiran yang….sangat busuk!!! (Ya, bahkan saya tak segan menganjingkanhina diri saya sendiri). Jurusan Arts adalah jurusan yang lumayan kompleks (apalagi Key Programme-ku, Humanity). Bener kata guru Sastra saya, Ilmu Sosial tidak pernah menekankan bahwa 1+1 tuh sama dengan 2. Tergantung dari sudut pandang mana sebuah masalah dilihat, penjumlahan sederhana itu bisa berbuah hasil 5, 12, ato bahkan 100. Sekedar ngerti teori di textbook aja nggak cukup, harus ada external evidences yang ngga dijelasin dalam bacaan wajib tersebut. Jelas aja saya (yang notabene ga biasa research bahan) kelabakan.  

Tapi, Puji Tuhan, entah kenapa saya bisa menjalaninya. Sepertinya Tuhan ngga rela hasil kerja keras saya terbuang sia-sia, padahal saya udah kadung berniat ‘tidak mulia’ dengan hanya mengejar nilai. Barangkali saja Tuhan tahu bahwa niatan saya untuk rela ditendangterbangkan keluar Indonesia adalah yang terbaik….ciyeee *ge-er, ge-er*. Dan Puji Tuhan sekali lagi karena saya masih sempat menulis pesan terakhir ini. Sebenarnya urge untuk menulis itu udah ngantre lamaaaaa banget, entah kenapa sang dalang berinisial ‘inspirasi’ itu always empty—kesumbat ama kesibukan2 lain macem tugas lah, kudu belajar lah, dll alasan klise yang terbukti kebenarannya. Hhh, sebel nggak sih?  

Barangkali yang saya butuhkan kali ini adalah motivasi. Yep, motivasi baru biar bisa nangkep makna Ramadhan kali ini. Terus terang aja puasa disini bener2 kerasa bedanya. Tidak ada yang namanya kekompakan massal, jadi kalo jalan2 keluar emang kudu nyiapin pandangan dan hati ketika melihat kafe2 dan McD plus Oporto mengumbar semerbaknya yang khas. Weleh, weleh. Ngga cuma itu, berhubung di flat kagak ada yang ‘mengawasi’, godaan buat mbeling pun juga hebat sangat. Makanya saya perkirakan jadwal ngenet saya jadi melonjak 2 kali lipat demi mengalihkan perhatian saya pada kulkas😀.  

Kira-kira begitulah kehidupan saya sekarang. Masih penuh dengan realita hidup yang ajaib bin aneh binti sulap, namun saya tetep selamat, sehat walafiat, sampai tujuan.  

Cheers!